Tampilkan postingan dengan label Kementrian Perhubungan (Kemenhub). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kementrian Perhubungan (Kemenhub). Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Maret 2010

Kemenhub Monitor Insiden Ban Pesawat

Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berjanji terus monitor insiden pesawat yang diduga dipicu oleh ban kempes setelah melakukan pendaratan di sejumlah bandara di Indonesia akhir-akhir ini.

"Penyakit terkait ban terus kita evaluasi, misalnya bibit-bibit atau kemungkinan terjadi insiden akan terus kita lakukan," kata Dirjen Perhubungan Udara, Herry Bakti S. Gumay, kepada pers di Jakarta, usai Shalat Jumat.

Penegasan tersebut terkait dengan maraknya insiden pesawat pecah ban, sesaat setelah mendarat seperti apa yang dialami Lion Air pada 18 dan 24 Maret 2010.

Pada 8 Maret 2010, pesawat B737-400 sebelah kanan patah ketika mendarat di Bandara Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara sekitar pukul 10.25 WITA. Meski tidak ada korban terhadap 169 penumpang dalam peristiwa itu, sempat beredar isu, roda pendaratan utama sebelah kanan pesawat itu disebut-sebut sampai patah.

Namun, hal tersebut dibantah oleh Direktur Umum Lion Air, Edward Sirait.

Kemudian, pada 24 Maret 2010, pesawat B737-900ER dengan 191 penumpang, juga mengalami pecah ban sebelah kiri dan tergelincir di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, sekitar pukul 11.33 WITA.

Herry menekankan, bahwa upaya investigasi internal terhadap dua peristiwa itu selama 10 hari ke depan.

"Mereka dikasih waktu 10 hari dan mereka punya `back up system` (sistim back up). Pilot harus baca `log book` mengenai standar penerbangan itu. Mereka harus setiap hari mengecek keselamatan," katanya.

Namun, Herry pada sisi lain mengakui, tidak menutup kemungkinan insiden seputar ban pesawat itu karena dipicu oleh salah faktornya yakni kondisi dan fasilitas bandara.

"Untuk di Indonesia Timur, salah satu faktornya dari fasilitas bandaranya. Kita minta AP I (PT Angkasa Pura) agar membenahi bandaranya," katanya.

Kamis, 18 Maret 2010

Lion Bantah Roda Pendarat Pesawatnya Patah

Jakarta (ANTARA News) - Maskapai penerbangan Lion Air membantah adanya informasi yang menyatakan bahwa salah satu roda pendaratan pesawat B737-400 sebelah kanan patah ketika mendarat di Bandara Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, sekitar pukul 10.25 WITA.

"Tidak benar informasi yang menyebutkan, landing gear pesawat kami patah," kata Direktur Umum Lion Air, Edward Sirait, saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Edward menjelaskan, pesawat B737-400 dengan jumlah penumpang 169 orang termasuk kru tersebut, mendarat dengan normal sekitar pukul 10.25 WITA. "Memang saat mendarat, cuaca sedang hujan, namun jarak pandang masih di atas 8 km," katanya.

Menurut Edward, setelah pesawat terhenti di ujung landasan, lalu berputar arah untuk menuju apron. "Saat roda bergerak, diketahui pesawat miring ke kanan dan setelah dicek bannya kempes," katanya.

Namun, Edward tidak bersedia merinci mengapa ban tersebut kempes, apakah karena pendaratan yang keras (hard landing) atau karena objek asing tidak dikenal (Foreign Object Damage).

"Kami belum tahu. Hal itu harus menunggu hasil investigasi dari pihak berwenang seperti KNKT atau Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan," katanya.

Ia juga mengakui, akibat peristiwa tersebut, bandara memang sempat ditutup sekitar satu jam dan setelah pesawat dievakuasi ke apron, bandara dibuka kembali.

"Sampai saat ini pesawat dalam proses perbaikan atau penggantian ban yang kempes, setelah itu menunggu ijin dari Ditjen Perhubungan Udara, agar bisa terbang kembali," katanya ketika dihubungi sekitar pukul 14.40 WIB.