Tampilkan postingan dengan label Wings Air. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wings Air. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Juni 2010

Empat Maskapai Penerbangan Banding

Jakarta - Empat maskapai penerbangan Indonesia memutuskan untuk mengajukan banding dalam kasus penetapan biaya bahan bakar.

Kamis (18/06) merupakan batas akhir bagi empat dari sembilan maskapai penerbangan yang diputus bersalah dalam kasus kartel penetapan biaya bahan bakar yang ditetapkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk banding.

Kamis, 27 Mei 2010

Wings Air Buka Sekolah Penerbang

Jakarta, (ANTARA News) - Maskapai penerbangan swasta, Wings Air membuka sekolah penerbang Wings Flying School (WFS) di Cirebon, Jawa Barat, Kamis (27/5).

Rabu, 05 Mei 2010

Inaca Pertanyakan Keputusan KPPU

Jakarta - Asosiasi Perusahaan Penerbangan Sipil Indonesia (INACA) secara tegas mempertanyakan keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) tentang praktik kartel pada penerapan biaya tambahan bahan bakar minyak (fuel surcharge/FS) oleh sembilan maskapai nasional.

Garuda Tolak Putusan Kartel KPPU

Jakarta - PT Garuda Indonesia secara tegas menolak putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) tentang tindakan kartel yang dituduhkan kepada BUMN Penerbangan itu bersama sembilan maskapai lainnya.

Sabtu, 23 Januari 2010

Wings Air Buka Rute Labuha-Manado

Ternate (ANTARA News) - Maskapai penerbangan Wings Air akan membuka rute penerbangan Labuha, Maluku Utara dari dan ke Manado, Sulawesi Utara mulai akhir Januari 2010.

Kepala Dinas Perhubungan Halsel, Zulfikra B. Duwila ketika dihubungi dari Ternate Sabtu mengatakan, pembukaan rute penerbangan Wings Air Labuha-Manado tersebut merupakan hasil kerjasama Pemkab Halsel dengan pihak Wings Air.

Pada tahap pertama Wings Air akan melayani rute penerbangan Labuha-Manado dua kali seminggu yakni Selasa dan Kamis. Jenis pesawat yang akan digunakan adalah tipe 74/500, berkapasitas 58 penumpang.

Zulfikra mengatakan, adanya penerbangan langsung Labuha-Manado tersebut akan memudahkan masyarakat dan para pelaku usaha di Halsel yang akan ke Manado dan daerah lainnya di Indonesia atau sebaliknya.

Masyarakat Halsel selama ini jika ingin ke Manado atau daerah lainnya di Indonesia harus menyebrang terlebih dahulu ke Ternate menggunakan kapal laut selama delapan jam. Baru kemudian melanjutkan perjalanan dengan pesawat atau kapal laut.

"Adanya penerbangan langsung Labuha-Manado tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan arus wisatawan ke Halsel. Wisatawan yang berkunjung di Manado bisa sudah bisa langsung melanjutkan kunjungan ke Halsel," ujar Zulfikra.

Halsel merupakan objek wisata andalan di Malut, terutama objek wisata bahari, namun selama ini jumlah kunjungan wisatawan ke daerah itu belum banyak karena adanya sejumlah kendala terutama transportasi udara.

Ia mengatakan, Pemkab Halsel juga telah pula melakukan pembicaraan dengan maskapai penerbangan Merpati untuk membuka rute penerbangan langsung Manado-Labuha-Sorong, Papua Barat.

Pihak Merpati rencananya akan membuka rute penerbangan Manado-Labuha-Sorong tersebut pada 2010 ini. Selama ini Merpati sudah pula membuka rute penerbangan ke Labuha, namun baru terbatas untuk rute Labuha-Ternate.

Menurut Zulfikra, Pemkab Halsel juga tengah mengupayakan pembangunan Bandara di Pulau Obi untuk membuka peluang adanya penerbangan ke Pulau itu menyusun banyaknya investor yang tertarik menanamkan modal pada sektor pertambangan dan perikanan di sana.(Ant)

Senin, 18 Januari 2010

Wings Air Anak Lion Air Buka Dua Rute di Indonesia Timur


Jakarta (ANTARA News) - Wings Air, anak perusahaan Lion Air, bersiap membuka dua rute baru pada Januari 2010, menyusul beroperasinya tiga armada baru ATR 72-500 sejak Januari 2010.

Direktur Umum Lion Air, Edward Sirait saat dihubungi di Jakarta, Minggu, mengatakan, dua rute itu yakni Ambon-Manokwari pulang pergi (pp) dan Manado-Melangguane p.p.

"Rute itu akan kami layani dengan pesawat terbaru Wings Air yakni ATR 72-500 berkapasitas 72 tempat duduk," katanya.

Rute baru Ambon-Manokwari direncanakan akan beroperasi mulai 20 Januari 2010 setiap hari Senin, Selasa, Rabu, Jumat, Sabtu dua kali per hari. Sedangkan rute baru Manado-Melangguane pp mulai 22 Januari 2010 setiap Senin, Rabu, Jumat, Minggu juga dua kali per hari.

Selain itu, kata Edward, pesawat baru ATR 72-500 akan melayani penambahan jumlah penerbangan di beberapa rute lainnya seperti ke Fakfak, Sorong, Ternate, Kaimana, Nabire, Jayapura dan Ambon.

"Pengembangan ini sejalan permintaan pasar dan dalam rangka mendukung program pembangunan pemerintah di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta mensinergikan jalur pelayanan penerbangan dari bandara-bandara kecil dengan bandara-bandara besar (sebagai feeder)," katanya.

Untuk itu, tegasnya, pihaknya telah memesan 30 pesawat ATR 72-500 baru. Pesawat ini dapat terbang selama empat jam tanpa henti dan tidak membutuhkan landasan yang panjang untuk tinggal landas dan mendarat.

Pesawat ini juga telah menggunakan mesin dan alat navigasi yang terbaru atau generasi terakhir dengan tingkat kebisingan dan akurasinya telah memenuhi standar penerbangan pada masa-masa mendatang.

"Pesawat ini juga telah banyak digunakan baik di Eropa maupun Asia sehingga dukungan suku cadangnya telah terjamin," katanya.

Komisaris Wings Air, Rusdi Kirana sebelumnya mengaku, "kedatangan pesawat adalah bukti kepercayaan dunia terhadap bangsa Indonesia dan merupakan bentuk apresiasi internasional terhadap pengembangan penerbangan nasional menuju sistem angkutan udara yang lebih baik".

Selain itu, tambah Rusdi, dukungan perbankan internasional untuk membiayai pengadaan pesawat ATR 72-500 merupakan gambaran kepercayaan dunia internasional pada Indonesia.(*)

Selasa, 05 Januari 2010

Lion Pertimbangkan Beli 10 Pesawat Badan Lebar

Jakarta (ANTARA News) - Maskapai penerbangan swasta terbesar, Lion Air, tengah mengkaji kemungkinan memesan 10 pesawat baru berbadan lebar pada semester kedua tahun ini.

"Kami sedang pelajari untuk menambah 10 pesawat wide body (badan lebar) semester kedua tahun ini," kata Presiden Direktur Lion Air Rusdi Kirana menjawab pers di Jakarta, Selasa.

Rusdi menjelaskan, 10 pesawat berbadan lebar yang akan dipesan Lion kemungkinan adalah Boeing 777 dan A-330 300.

"Pembiayaannya (untuk pembelian red), kemungkinan besar dari pihak ketiga. Sebagian besar dari Eropa, salah satunya adalah BNP Paribas," kata Rusdi.

Rusdi mengakui, 10 pesawat itu akan dioperasikan untuk pembukaan sejumlah rute baru di kawasan Asia Timur seperti Jepang dan negara lainnya.

Rusdi optimis mampu mendatangkan pesawat berbadan lebar itu, menyusul reputasi perusahaannya yang dipercaya lembaga keuangan global untuk memesan 178 pesawat B737-900ER.

"Meski pesanan jangka pendek. Kami optimis," katanya singkat.

Sejak akhir tahun 2009, maskapai ini sudah mengoperasikan dua pesawat berbadan lebar B747-400 untuk rute Jakarta-Jeddah pulang pergi.

30 ATR

Rusdi juga mengakui, pihaknya juga menambah pesanan jenis pesawat ATR untuk dioperasikan di daerah pengumpan (feeder) di sejumlah daerah kabupaten di Indonesia.

"Saat ini kami sudah punya tiga ATR baru antara lain untuk melayani Manado dan sekitarnya. Rencananya, besok (6/1) untuk Manado dan sekitarnya akan dimulai dan dihadiri dubes Perancis untuk Indonesia," katanya.

Rusdi mengatakan, awalnya Lion memesan 15 pesawat, tetapi karena potensi pengumpan di Indonesia cukup besar, maka pesanan ditingkatkan jadi 30 pesawat.

"Tiga puluh pesawat itu secara bertahap akan dikirim hingga 2012," katanya.

Sejumlah kabupaten kota yang diincar tahun ini oleh Lion, tambah Rusdi, antara lain Medan dan sekitarnya, NTB-NTT dan sekitarnya.

"Setelah mereka terbang dari kabupaten kota dengan ATR yang dioperasikan Wings Air, anak usaha Lion Air, selanjutnya ke kota-kota besar menggunakan Lion Air," katanya.(*)

Rabu, 24 Juni 2009

23 Pesawat di Cengkareng Jadi Barang Rongsokan

Rabu, 24 Juni 2009 | 05:47 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: PT Angkasa Pura II (Persero) berencana merelokasi 23 pesawat rusak yang mangkrak di apron Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Angkasa Pura II telah menyurati pemilik bangkai pesawat agar segera memindahkan paling tidak pada Juli mendatang.

"Sebelum penerbangan Haji (November) tahun ini harus sudah kelar," kata Direktur Operasi dan Teknik Angkasa Pura II, Tulus Pranowo, di kantor Angkasa Pura II di Tangerang, Banten kemarin.Ia mengeluh karena bangkai pesawat tersebut menyebabkan kepadatan dan mengganggu fungsi utama apron. "Rata-rata pesawat rusak itu sudah terparkir sekitar dua tahun," ujar Tulus.

Rencananya, apron tempat pesawat bobrok akan dipakai menampung pesawat yang melakukan perbaikan. Termasuk untuk mengantisipasi kebutuhan tempat parkir seiring peningkatan jumlah penerbangan. "Karena kami harus memberikan pelayanan yang baik terhadap pesawat yang beroperasi," katanya.

Direktur Utama Angkasa Pura II, Edie Haryoto mengakui bahwa selama ini pihaknya memang belum tegas terhadap persoalan pesawat mangkrak. Sebab, dahulu bangkai pesawat itu belum mengganggu kebutuhan apron. "Maka itu, sekarang kami akan tegas," ujar dia.

Bahkan, bila ada maskapai yang tidak menggubris surat himbauan relokasi, Angkasa Pura akan menempatkan bangkai pesawat itu di lapangan rumput sekitar apron. Selanjutnya pesawat-pesawat ini akan dimutilasi agar memudahkan pemindahan. "Selanjutnya akan kami buang ke tempat pembuangan," kata Edie.

Rincian jumlah dan pemilik bangkai pesawat itu adalah: dua unit pesawat Lion Air, delapan pesawat Wings Air, empat pesawat Merpati Nusantara, dua pesawat Bali Air, dua pesawat Bouraq Airlines, dua pesawat Mandala Airlines, dua pesawat Jatayu Airlines, dan satu pesawat Megantara Airlines. Beberapa maskapai diantara pemilik bangkai pesawat tersebut, saat ini sudah tidak beroperasi lagi.

WAHYUDIN FAHMI