Tampilkan postingan dengan label larangan terbang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label larangan terbang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Juli 2009

UE Cabut Larangan Terbang, Dephub Minta Maskapai Patuhi Regulasi

Sabtu, 04/07/2009 09:30 WIB

Rachmadin Ismail - detikNews


Jakarta
- Maskapai penerbangan yang akan melayani rute ke Eropa diminta untuk berbenah diri. Berbagai regulasi tentang aturan keselamatan penerbangan diminta untuk terus dipatuhi.

"Pencabutan larangan ini diperoleh dengan susah payah, kita harus pertahankan, termasuk oleh maskapai penerbangan," kata Kepala Humas Departemen Perhubungan Bambang S Ervan saat berbincang lewat telepon, Jumat (3/7/2009).

Menurut Bambang, pencabutan larangan tersebut dipengaruhi juga oleh peran pemerintah dalam membuat aturan baru tentang penerbangan. Lewat UU No 1 tahun 2009, sedikitnya ada pencerahan baru dalam aturan keamanan dan keselamatan maskapai penerbangan Indonesia.

"Semuanya mengacu pada peraturan internasional, jadi sudah maksimal," jelasnya.

Selain itu ada sekitar 22 aturan pemerintah yang sudah diterbitkan. Aturan tersebut dibentuk sebagai petunjuk pelaksanaan dari undang-undang sebelumnya.

Selain itu, Bambang juga meminta maskapai yang akan membuka jalur ke Eropa segera diaudit oleh lembaga internasional khusus masalah keselamatan. Peremajaan pesawat juga penting dilakukan.

"Mereka juga harus siap bersaing dengan maskapai asing lainnya, termasuk soal harga," pungkasnya.(mad/mad)

UE Cabut Larangan Terbang, Garuda Siap Terbang ke Eropa Mulai 2010

Sabtu, 04/07/2009 08:11 WIB

Rachmadin Ismail - detikNews

dok.detikcom

Jakarta
- Meski larangan terbang ke Eropa dicabut, berbagai persiapan perlu dilakukan Garuda Airways (GA) sebelum terbang. Waktu yang dibutuhkan sekitar 9 bulan.

"Diperkirakan memakan waktu sekitar 9 bulan. Sehingga diharapkan GA akan terbang lagi ke Eropa mulai semester pertama tahun 2010," kata Humas GA Pudjobroto lewat pesan singkat kepada detikcom, Jumat (3/7/2009).

Salah satu persiapan yang dilakukan Garuda adalah penyediaan pesawat. Saat ini belum bisa dipastikan jenis pesawat yang akan digunakan nanti untuk melayani rute ke Eropa.

"Tetapi bisa saja sebagai salah satu alternatif, nanti kita bisa terbang ke Eropa menggunakan pesawat A 330-200," jelasnya.

Pesawat tersebut jika melayani rute Jakarta-Amsterdam harus melakukan satu kali pemberhentian. Namun, rencananya Garuda juga akan mendatangkan pesawat baru yang khusus melayani rute ke Eropa.

"Kalau pesanan pesawat B 777 sebanyak 10 buah yang Garuda pesan sudah datang sekitar akhir 2010 atau awal 2011 kita akan gunakan pesawat tersebut," tambahnya.

Jenis pesawat Boeing 777 bisa langsung menuju Eropa tanpa melakukan pemberhentian. "Termasuk ke Frankfurt, Jerman," tutupnya.(mad/mad)

UE Cabut Larangan Terbang Garuda Sambut Positif, Amsterdam Kota Tujuan Perdana

Sabtu, 04/07/2009 06:25 WIB
Rachmadin Ismail - detikNews


Jakarta
- Maskapai Penerbangan Garuda Airways (GA) menyambut positif rencana pencabutan larangan terbang ke Eropa oleh Uni Eropa. Jika itu terlaksana, kota Amsterdam, Belanda, akan menjadi rute tujuan pertama.

"Apabila telah dicabut, maka nanti Garuda akan terbang ke Amsterdam sebagai kota pertama di Eropa," kata Humas GA Pudjobroto lewat pesan singkat kepada detikcom, Jumat (3/7/2009).

Amsterdam dipilih karena mempunyai pangsa pasar yang cukup besar. Cukup banyak warga Indonesia atau Belanda yang melakukan perjalanan lewat jalur tersebut.

Tahun 2004 lalu, Garuda sempat menghentikan layanan penerbangannya ke Amsterdam dengan alasan kurang mampu bersaing. Namun, lewat pelayanan yang lebih baik, diharapkan hal tersebut tidak akan terjadi lagi.

"Kita akan tingkatkan dengan menggunakan pesawat yang lebih modern dan kualitas layanan yang telah ditingkatkan," tutupnya.(mad/mad)

Jumat, 03 Juli 2009

Laporan dari Brussel, UE Telah Cabut Larangan Terbang Garuda Cs

Jumat, 03/07/2009 17:54 WIB
Eddi Santosa - detikNews


Brussel - Uni Eropa telah mengeluarkan pendapat positif mengenai kemajuan kinerja keselamatan penerbangan RI. Keputusan mencabut larangan terbang akan keluar dua minggu lagi.

Pendapat positif itu keluar setelah Komite Keselamatan Penerbangan Uni Eropa melakukan sidang selama tiga hari yang baru berakhir kemarin (30/6 - 2/7/2009) dan selanjutnya merekomendasikan untuk mencabut empat maskapai penerbangan RI dari daftar larangan terbang ke wilayah Uni Eropa.

Keempat maskapai tersebut adalah Garuda Indonesia, Mandala Airlines, Airfast Indonesia, dan Premiair, demikian siaran pers KBRI Brussel melalui Sekretaris III Pensosbud Royhan N. Wahab yang diterima detikcom siang ini (3/7/2009) Waktu Eropa Tengah.

Keputusan UE (Commission Regulation) mengenai hal ini akan dikeluarkan kurang lebih dua minggu dari sekarang, yaitu setelah proses penerjemahan ke dalam 22 bahasa resmi UE dan penandatanganan oleh Komisioner untuk Urusan Transportasi.

Dengan dicabutnya maskapai penerbangan Indonesia dari daftar larangan terbang ke UE, maka keempat maskapai penerbangan tersebut telah dianggap layak dari segi keselamatan penerbangan untuk melakukan operasi penerbangan ke dan dari Eropa.

Demikian juga warga negara Uni Eropa dapat menggunakan maskapai penerbangan tersebut untuk perjalanan domestik di Indonesia maupun ke luar negeri. (es/es)

Selasa, 23 Juni 2009

Dephub Optimistis UE Cabut Larangan Terbang 4 Maskapai RI

Selasa, 23/06/2009 12:13 WIB
Nograhany Widhi K - detikNews

Ilustrasi (ec.europa.eu)
Jakarta - Uni Eropa (UE) memberikan respon positif terhadap perkembangan regulasi dan kondisi penerbangan Indonesia. Departemen Perhubungan (Dephub) pun optimistis UE akan mencabut larangan terbang bagi 4 maskapai yang diprioritaskan pemerintah.

"Belum (dicabut), baru mau. Kita tidak mau mendahului, tapi memang mengarah (pencabutan larangan terbang)," ujar Dirjen Perhubungan Udara Dephub Herry Bakti S Gumay ketika dikonfirmasi detikcom tentang pencabutan larangan terbang oleh UE, Selasa (23/6/2009).

Herry mengatakan keputusan final UE memang belum ada karena UE baru bersidang pada 30 Juni, 1-2 Juli 2009 di markas UE, Brussel, Belgia. Herry sendiri rencananya akan berangkat ke Brussel untuk presentasi terakhir di depan 27 negara anggota Komisi UE pada 30 Juni siang.

Keoptimisan bahwa UE akan mencabut larangan terbang terlihat dari respon UE yang menanggapi positif kemajuan kondisi penerbangan Indonesia.

"Minggu lalu ada 4 orang dari UE datang ke kita untuk lihat apa yang telah kita lakukan sesuai regulasi penerbangan Indonesia. Hasilnya banyak kemajuan dan positif," jelas mantan Administrator Bandara Soekarno-Hatta ini.

Larangan terbang UE ke Indonesia dikenakan kepada seluruh maskapai RI sejak 27 Juli 2007. Update terakhir pada 8 April 2009, UE belum juga mencabut larangan terbang yang dievaluasi setiap 3 bulan itu.

Sebelumnya Dephub memprioritaskan 4 maskapai penerbangan Indonesia untuk dihapus dari daftar larangan terbang. 4 Maskapai itu adalah Garuda Indonesia, Mandala Airlines, Prime Air dan AirFast.(nwk/iy)

Selasa, 31 Maret 2009

Laporan dari London Garuda Sangat Mudah Urus Izin Mendarat di London

Selasa, 31/03/2009 07:08 WIB
Arifin Asydhad - detikNews

Pesawat Garuda mendarat di Eropa

London - Pesawat Garuda Indonesia Airbus A 330-341 yang membawa Presiden SBY dan rombongan merupakan pesawat pertama Garuda yang mendarat di Eropa setelah ada larangan Uni Eropa (UE). Saat mengurus surat izin mendarat ke otoritas penerbangan Inggris, Garuda tak memiliki masalah apa pun.

Bahkan, pengurusan surat izin itu sangat mudah. Surat izin bagi Garuda selesai hanya dalam waktu satu minggu. Namun, bisa jadi pengurusan yang mudah ini karena Garuda membawa Presiden SBY dan rombongan untuk hadir di KTT G-20.

"Kita sangat mudah mengurus izin mendarat, seminggu selesai. Padahal, larangan UE belum dicabut," kata EVP Operation Garuda Indonesia, Capt Ari Sapari saat berbincang dengan detikcom di dalam pesawat dalam penerbangan Jakarta-London.

Pesawat Garuda dengan nomor registrasi PK-GPE ini mendarat mulus di Bandara Gatwick, London pukul 23.00 waktu London, Senin (30/3/2009) atau pukul 05.00 WIB, Selasa (31/3/2009).

Ari Sapari berharap pendaratan pesawat Garuda ini membuat UE mencabut larangan bagi maskapai Indonesia. Dia juga berharap pemerintah, melalui Departemen Perhubungan, terus melobi UE agar mencabut larangan itu.

Garuda, menurut Ari, sudah sangat siap untuk membuka rute penerbangan ke Eropa. Apalagi, baru-baru ini Garuda juga telah memperbarui pesawatnya. Misal, pada 2 Maret 2009 lalu, Garuda telah membeli delapan pesawat Boeing 737-800 NG.

Namun, menurut Dirut Garuda Emirsyah Satar, bila memang UE mencabut larangan terbang bagi maskapai Indonesia, Garuda belum tentu langsung membuka rute ke Eropa. "Akan kita survei dulu, ada penumpangnya tidak, karena saat ini sedang krisis global," kata Emirsyah.
(ris/nwk)

Laporan dari London Pesawat Pembawa SBY Pesawat Garuda Pertama yang Mendarat di Eropa

Selasa, 31/03/2009 06:45 WIB
Arifin Asydhad - detikNews

Pesawat Garuda mendarat di Eropa

London - Di tengah suhu yang sangat dingin, 7 derajat Celcius, pesawat Garuda Airbus A 330-341 yang membawa Presiden SBY mendarat mulus di Bandara Gatwick, London, Inggris. Ini merupakan pesawat Garuda pertama yang mendarat di Eropa setelah Uni Eropa melarang maskapai penerbangan Indonesia mendarat di Eropa.

Pesawat ini mendarat sekitar pukul 23.00 waktu London, Senin (30/3/2009) atau pukul 05.00 WIB, Selasa (31/3/2009). Seperti dilaporkan wartawan detikcom Arifin Asydhad yang menyertai kunjungan Presiden SBY, pilot mendaratkan pesawat di runway bandara Gatwick dengan mantap, nyaris tanpa ada goncangan saat roda pesawat menyentuh landasan.

Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar membenarkan bahwa pesawat tersebut merupakan pesawat Garuda yang mendarat pertama di Eropa, setelah Uni Eropa melarang pesawat Indonesia.

"Ya benar ini pesawat Garuda pertama. Tidak ada ban-ban-an," kata Emirsyah yang menyertai kunjungan SBY saat ditanya detikcom.

Menurut Emirsyah, pendaratan pesawat Garuda ini membuktikan bahwa pesawat dari maskapai Indonesia aman. Tidak ada alasan lagi bagi Uni Eropa untuk melarang pesawat Indonesia. "Ini bukti bahwa pesawat kita aman," kata dia.

Pesawat Airbus milik Garuda bernomor registrasi PK-GPE ini memiliki panjang 63,6 meter. Pesawat bermesin 2 Rolls Royce Trent 768 ini take off dari Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta Timur pada pukul 11.00 WIB, Senin (30/3/2009).

Setelah menjelajah lebih dari delapan jam, pesawat ini mendarat mulus di Bandara Internasional Dubai pada pukul 16.20 waktu setempat atau pukul 19.20 WIB. Pesawat transit untuk pengisian bahan bakar.

Sekitar pukul 18.00 waktu Dubai, pesawat kembali terbang menuju London. Setelah terbang sekitar delapan jam, pesawat mendarat mulus di Bandara Gatwick sekitar pukul 23.00 waktu London atau pukul 05.00 WIB, Selasa (31/3/2009).

Uni Eropa melarang pesawat Indonesia karena dinilai tidak aman. Pelarangan ini dilakukan Uni Eropa setelah ada beberapa pesawat Indonesia mengalami kecelakaan. Pemerintah Indonesia, melalui Departemen Perhubungan, sudah melakukan lobi, namun hingga kini larangan itu belum dicabut.(asy/nwk)

Rabu, 18 Maret 2009

Larangan Terbang Indonesia oleh Eropa Tidak Politis

Rabu, 18/03/2009 17:06 WIB

Bagus Kurniawan - detikNews
Yogyakarta - Larangan terbang yang diberlakukan Eropa terhadap maskapai penerbangan Indonesia semata-mata urusan teknis keselamatan penerbangan. Larangan terbang tidak mempunyai urusan politis.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Julian Wilson mengatakan hal tersebut kepada wartawan seusai acara 'Indonesia-EU Relation Update, Konvensi Perdana Studi Eropa di Indonesia' di gedung Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu (18/3/2009).

"Soal flight ban itu masalah sangat teknis berkaitan dengan technical aeroship, tidak ada urusannya dengan yang lain (politik-red)," kata Wilson.

Selain sangat teknis demi keselamatan penerbangan kata Wilson, larangan terbang itu juga seusai standar yang berlaku di ICAO (International Civil Aviation Organization). Pihaknya terus berupaya membantu Indonesia untuk memenuhi berbagai persyaratan tersebut.

"Kami selalu bekerjasama dan membantu pemerintahan Indonesia melalui Deplu dan Departemen Perhubungan menyelesaikan masalah itu," ungkap dia.

Menurut dia, saat ini pemerintah Indonesia berusaha memperbaiki dan memenuhi berbagai persyaratan yang harus dipenuhi sehingga larangan itu bisa dicabut. Dari sekitar 69 syarat dan tahapan itu, sudah sekitar 62 syarat yang sudah terpenuhi.

"Bila tujuh syarat itu selesai dan sesuai standar yang ada, segera flight ban dicabut," kata Wilson yang datang ke Yogyakarta itu tidak menggunakan pesawat terbang tapi kereta api eksekutif itu. (bgs/anw)