MATARAM,KOMPAS.com-Pesawat Lion Air MD 190 dengan nomor penerbangan 652 jurusan Jakarta - Mataram tergelincir ketika mendarat di Bandara Selaparang, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (27/6), sekitar pukul 14.18 Wita.
Pesawat naas yang membawa penumpang sekitar 155 orang dan tujuh awak pesawat itu tergelincir dengan posisi badan pesawat melintang di tengah landasan pacu yang mengakibatkan bandara ditutup selama beberapa jam.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun ratusan penumpang tampak panik, begitu juga dengan keluarga para penumpang yang berada di ruang tunggu tampak tegang melihat peristiwa tersebut sehingga memaksa untuk masuk ke lokasi kejadian.
Menurut Airport Duty Manager Bandara Selaparang, Agus Adi Pratomo, pesawat tersebut tergelincir karena pilot salah posisi ketika akan memutar badan pesawat. "Petugas menara telah memberikan aba-aba supaya pilot memutar pesawat di ujung landasan yang jaraknya 2.100 meter, tetapi pilot memutar pesawat di meter ke 1.600," ujarnya.
Menurut dia, akibat dari kesalahan lokasi memutar badan pesawat itu hidrolik roda depan tidak berfungsi sehingga harus digeret ke tempat parkir pesawat yang seharusnya dengan alat penderek.
Akibat peristiwa tergelincirnya pesawat Lion Air tersebut bandara ditutup sehingga dua pesawat yaitu Garuda tujuan Jakarta dan Riau AirlineS yang dicarter Transnusa tujuan Sumbawa tertunda hingga beberapa jam. Selain itu, sebanyak 175 penumpang pesawat Lion Air yang hendak berangkat ke Jakarta masih berada di ruang tunggu Bandara Selaparang.
Dari ratusan penumpang tersebut terdapat sejumlah anggota DPRD Provinsi Jambi yang melakukan kunjungan kerja ke NTB dan lima wartawan dari media cetak nasional seperti Kompas, Bisnis Indonesia, Gatra dan Suara Pembaruan. "Pesawat Lion Air yang seharusnya berangkat pukul 14.20 tertunda hingga pukul 18.30 wita, para penumpang sudah diberikan informasi agar bisa memaklumi kesalahan teknis itu," ujarnya.
Sementara itu, Manager Station, Lion Air, Indra Aprianur, membantah peristiwa tersebut akibat kesalahan dari pilot. "Pesawat hanya belok terlalu ekstrim sehingga roda depan ngeblok yang menyebabkan hidrolik roda depan tidak berfungsi dan kondisi pesawat juga laik terbang," ujarnya.
Sabtu, 27 Juni 2009
Lion Air Tergelincir di Bandara Selaparang
Lion Air Bantah Pesawatnya Tergelincir
|
VIVAnews - Management Lion Air membantah, jika pesawat jenis MD 90 mengalami kerusakan dan mengakibatkan tergelincir, di Bandara Selarapang, siang tadi, Sabtu 27 Juni 2009.
Manager Oprasional Lion Air Indra Apriannur, mengatakan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 653 itu hanya mengalami slip ban depan sehingga berbelok 180 derajat di Runway 9 Bandara Selaparang.
"Pesawat kami tidak tergelincir bahkan tidak rusak. Hanya saat berbelok ban depan menikung terlalu kencang,saya berada dilokasi sejak tadi," kata Indra kepada wartawan di Bandara Selaparang Mataram.
Meski demikian Indra menolak menyatakan jika Insiden itu murni disebabkan kesalahan manusia dalam hal ini pilot pesawat Lion Air MD 90. Menurutnya dia tidak berhak mengeluarkan pernyataan itu karena harus melalui pihak managemen Lion Air di Jakarta.
Sementara itu Duty Manager Bandara Selaparang Agus Adi Pratono menjelaskan pesawat berada pada kilometer 1600 dengan posisi menyilang ditengah runway. Itu mengakibatkan sejumlah pesawat lainnya baik yang hendak mendarat maupun tinggal landas tidak dapat dioperasikan.
"Posisi pesawat berada tepat dipinggir runway dan moncongnya sudah keluar dari garis sehingga ngeblok runway sejauh 7 meter ,"ujar Agus.
Untuk memundurkan pesawat itu,lanjut Agus,harus menngunakan dongkrak dan pipa besi panjang untuk menjaga agar ban depan pesawat tidak patah. Itu dilakukan karena Bandara Selaparang tidak memiliki alat bantu penarikan pesawat atau disebut Towwing Barr.
Meski mengalami insiden namun pesawat tersebut tidak mengalami kerusakan. Bahkan penumpang juga selamat tanpa ada yang cedera. Saat ini pesawat tersebut akan diberangkatkan menuju Jakarta. Pesawat tersebut berkapasitas 175 orang termasuk awak pesawat yang terdiri dari dua pilot dan empat pramugari.
Berbagai insiden seperti gangguan pada hidrolik,kerusakan pada alat komunikasi hingga kerusakan pada roda pesawat kerap dialami oleh pesawat Lion Air.
Bahkan pada tanggal 4 Juni lalu pesawat Wings Air dengan nomor penerbangan IW 8387 tujuan Mataram-Surabaya juga sempat tertunda. Akibatnya 18 Anggota Dewan memprotes pihak management pesawat. Saat itu Indra menjelaskan jika pesawatnya mengalami kerusakan alat informasi.
Laporan: Edy Gustan | Mataram
Lion Air Salah Parkir di Selaparang, Mataram
Sumber: Tempointeraktif.com
Sabtu, 27 Juni 2009 | 18:32 WIB
TEMPO Interaktif, Mataram - Selama 194 menit bandar udara Selaparang di Mataram ditutup akibat melintangnya pesawat Lion Air PK-LIM penerbangan GT 652 jurusan Jakarta – Mataram pada pukul 14.18 WIT, Sabtu (27/6) siang tadi. Pesawat MD 90 yang mengangkut 169 orang penumpang tersebut, salah lokasi memutar balik setelah mendarat dari posisi 27 ujung timur landasan, dengan jarak 1.600 meter. Padahal, seharusnya pilot harus memutar pada posisi 09 di ujung barat landasan, dengan jarak 2.100 meter.
Akibat melintangnya pesawat tersebut selama 45 menit penumpang tertahan di dalam pesawat . Kebanyakan penumpang gelisah dan diantaranya malah histeris memarahi awak pesawat. Ini karena lambatnya evakuasi darat yang menunggu tiga bus dari Bertais sejauh 10 kilometer dari bandara. ‘’Memang ada yang panik walaupun tidak terjadi apa terhadap penumpang,’’ ujar Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nusa Tenggara Barat Heryadi Rachmad kepada wartawan di terminal kedatangan.
Menurut Duty Manager PT Angkasa Pura I Selaparang Agus Adi Pratomo menjelaskan bahwa menara sudah memberitahukan bahwa pesawat yang hendak menurunkan penumpang di terminal kedatangan harus memutar di ujung 09. "Salah posisi beloknya. Di situ bukan tempat perputaran pesawat,’’ katanya.
Menurut Agus, pada lokasi belok yang salah tersebut memang dulunya adalah ujung landasan sewaktu panjang landasan masih 1.600 meter. Tapi sekarang meskipun lebar perputaran itu tidak dihapus, sudah ada rambunya. Jadi bukan lagi tempat beloknya pesawat. ‘’Ini murni kesalahan penerbang,’’ ujarnya menjelaskan. Ujung pesawat berada pada posisi tujuh meter dari tepi selatan landasan. Lebar landasan 40 meter.
Setelah melintang Lion Air tersebut karena tidak dapat memutar tersebut ada empat penerbangan yang harus menunggu dibuka kembali, yaitu Garuda 433 tujuan Jakarta yang semestinya berangkat pukul 14.52 baru diberangkatkan pukul 16.52. Riau Airlines yang dicarter Trans Nusa tujuan Sumbawa semestinya jadwalnya pukul 14.00 baru berngkata pukul 16.48.
Station Manager Lion Air Indra Aprianur yang memberikan keterangan kepada wartawan, mengatakan kejadian tersebut bukan insiden dan peswat dinyatakan laik terbang. "Ini bukan human error. Tidak ada kesalahan, hanya waktu belok terlalu ekstrim,’’ ucapnya menjelaskan. Rencananya, pada pukul 18.30, pesawta akan kembali diberangkatkan dengan tujuan Jakarta.
Tak ada korban maupun luka dalam peristiwa ini.
SUPRIYANTHO KHAFID
Lion Air Rem Mendadak di Mataram
INILAH.COM, Jakarta - Pesawat Lion Air MD 190 jurusan Jakarta-Mataram mengerem mendadak di Bandara Selaparang, Mataram. Semula diduga terpeleset, namun ternyata karena harus segera menghentikan pesawat lantaran belokan sudut roda terlalu tajam.
"Tidak benar pesawat kami tergelincir, karena hanya sedikit insiden kecil, ketika membelok, sudut roda terlalu tajam, sehingga pesawat dihentikan," kata Direktur Umum Lion Air Edward Sirait saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (27/6).
Insiden terjadi sekitar pukul 14.45 Wita. Namun tidak ada korban apapun termasuk korban jiwa. Meski demikian Bandara Selaparang sempat ditutup beberapa waktu.
"Pesawat terbang dari Jakarta, dan ketika landing mau menuju apron, ketika turning terlalu tajam, sehingga pilot menghentikan pesawat. Pesawat sama sekali tidak mengalami kerusakan dan kelainan apapun di ban depan," jelas Edward menanggapi kabar ban depan pecah.
Penghentian pesawat, jelas dia, dilakukan sebagai upaya mengantisipasi atas hal-hal yang mungkin saja terjadi, seperti pecah ban atau merusak runway. "Roda depan pun sama sekali tidak keluar dari runway hanya posisi turning yang terlalu tajam," katanya.
Diakuinya, operasional Bandara Selaparang memang sempat ditutup akibat peristiwa itu karena posisi pesawat yang memblok runway dan tidak memungkinkan posisi landing bagi pesawat lain yang memiliki jadwal kedatangan bersamaan.
Saat peristiwa terjadi, sebanyak 169 penumpang dan 6 awak pesawat segera dievakuasi menggunakan bus. Hanya diperlukan waktu sekitar 35 menit untuk mengevakuasi pesawat dan memperbaiki posisi roda, kemudian dijalankan menuju apron.
"Hanya dalam waktu 35 menit pesawat sudah dipindahkan ke apron dan saat ini sudah diparkir dengan baik. Sudah kami periksa dan tidak ada kerusakan apa pun meski begitu kami masih menunggu pihak otorita untuk detail pemeriksaan lebih lanjut," kata Edward. [*/sss]
Pesawat Lion Air Tergelincir di Bandara Selaparang
Sejumlah petugas memeriksa pesawat Lion Air yang mengalami gangguan roda saat mendarat di Bandara Selaparang, Mataram, NTB, Sabtu (27/6). (ANTARA/Budi Afandi)
Pesawat naas yang membawa penumpang sekitar 155 orang dan tujuh awak pesawat itu tergelincir dengan posisi badan pesawat melintang di tengah landasan pacu yang mengakibatkan bandara ditutup selama beberapa jam.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun ratusan penumpang tampak panik, begitu juga dengan keluarga para penumpang yang berada di ruang tunggu tampak tegang melihat peristiwa tersebut sehingga memaksa untuk masuk ke lokasi kejadian.
Menurut Airport Duty Manager Bandara Selaparang, Agus Adi Pratomo, pesawat tersebut tergelincir karena pilot salah posisi ketika akan memutar badan pesawat.
"Petugas menara telah memberikan aba-aba supaya pilot memutar pesawat di ujung landasan yang jaraknya 2100 meter, tetapi pilot memutar pesawat di meter ke 1600," ujarnya. Menurut dia, akibat dari kesalahan lokasi memutar badan pesawat itu hidrolik roda depan tidak berfungsi sehingga harus digeret ke tempat parkir pesawat yang seharusnya dengan alat penderek.
Akibat peristiwa tergelincirnya pesawat Lion Air tersebut bandara ditutup sehingga dua pesawat yaitu Garuda tujuan Jakarta dan Riau AirlineS yang dicarter Transnusa tujuan Sumbawa tertunda hingga beberapa jam.
Selain itu, sebanyak 175 penumpang pesawat Lion Air yang hendak berangkat ke Jakarta masih berada di ruang tunggu Bandara Selaparang.
Dari ratusan penumpang tersebut terdapat sejumlah anggota DPRD Provinsi Jambi yang melakukan kunjungan kerja ke NTB dan lima wartawan dari media cetak nasional seperti Kompas, Bisnis Indonesia, Gatra dan Suara Pembaruan.
"Pesawat Lion Air yang seharusnya berangkat pukul 14.20 tertunda hingga pukul 18.30 wita, para penumpang sudah diberikan informasi agar bisa memaklumi kesalahan teknis itu," ujarnya.
Sementara itu, Manager Station, Lion Air, Indra Aprianur, membantah peristiwa tersebut akibat kesalahan dari pilot.
"Pesawat hanya belok terlalu ekstrim sehingga roda depan ngeblok yang menyebabkan hidrolik roda depan tidak berfungsi dan kondisi pesawat juga laik terbang," ujarnya. (*)
COPYRIGHT © 2009
Lion Air Tergelincir Lion Air: Kesalahan Ada Pada Pilot
|
VIVAnews - Setelah ditutup selama hampir satu jam, Bandara Selaparang kembali beroperasi. Pesawat Lion Air MD 90 yang tergelincir di Runway 09 Bandara Selaparang sudah berhasil ditarik menuju Apron nomor 8.
Kepala Duty Manager Bandara Selaparang Agus Adi Pratono mengatakan peristiwa kecalakaan itu murni kesalahan pilot Lion Air.
"Kecelakaan itu bukan akibat kerusakan pesawat namun karena salah pilot yang salah belok. Pesawat yang seharusnya belok diujung runway di kilometer 2100 malah belok ditengah runway kilometer 1600 sehingga keluar dari landasan," kata Agus kepada wartawan di Bandara Selaparang Sabtu 27 Juni 2009.
Sementara itu hingga kini sebanyak 175 penumpang pesawat Lion Air yang hendak berangkat ke Jakarta masih berada diruang tunggu bandara Selaparang. Diantara mereka terdapat lima wartawan dari media cetak nasional seperti Kompas, Bisnis Indonesia, Gatra dan Suara Pembaruan.
"Pesawat Lion Air yang seharusnya berangkat pukul 14.20 tertunda hingga pukul 18.30. Kami harap penumpang bisa maklum," ujar Agus.
Sejumlah calon penumpang Lion Air nomor penerbangan JT 653 mengaku khawatir dengan kondisi pesawat itu. Pasalnya pesawat yang hendak ditumpangi adalah pesawat yang baru saja mengalami kecelakaan.
Laporan: Edy Gustan | Mataram
Tergelincir di Bandara Selaparang Lion Air: Ini Murni Kesalahan Pilot
Kus Mayadi - detikNews
Mataram - Pesawat Lion Air MD 190 jurusan Jakarta-Mataram tergelincir di Bandara Selaparang, Mataram. Kecelakaan ini diduga murni kesalahan sang pilot.
"Pesawat tergelincir di landasan 27. Ini murni kesalahan pilot," kata Airport Duty Manager Bandara Velaparang, Agus Adi Pratomo, di Bandara Selaparang, Mataram, Sabtu (27/6/2009).
Menurut dia, pesawat tidak dalam kerusakan apa pun. "Tetapi, hidrolik roda depan tidak berfungsi setelah tergelincir," ujarnya.
Akibat insiden ini, 2 penerbangan tujuan Jakarta tertunda. Pesawat sudah dievakuasi dengan ditarik dengan traktor.(aan/djo)
Lion Air Tergelincir di Bandara Selaparang, Penumpang Histeris
Kus Mayadi - detikNews
Mataram - Pesawat Lion Air MD 190 jurusan Jakarta menuju Mataram tergelincir saat mendarat di Bandara Selaparang, Kota Mataram. Pesawat dalam posisi melintang di tengah runway dan mengakibatkan bandara ditutup.
Pesawat naas itu tergelincir tepatnya di ujung landasan pacu hingga 7 meter di Bandara Selaparang, Mataram, Sabtu (27/6/2009) pukul 14.18 Wita. Beruntung, 155 orang penumpang dan 7 kru selamat.
Pengamatan detikcom, penumpang tampak histeris. Keluarga yang menunggu pintu kedatangan tampak memaksa masuk ke bandara.
Ada penumpang yang menangis. Ada juga yang berteriak histeris. "Tolong..tolong," kata seorang penumpang perempuan.
Penumpang anak-anak banyak yang menangis. Mereka menunggu sekitar 30 menit sebelum dievakuasi bus.
"Ketika mendarat, tidak seperti biasanya. Ini lebih keras. Tetapi tidak ada pemberitahuan apa pun. Begitu turun dan tahu pesawat tergelincir, penumpang panik," kata Subiakto, seorang penumpang.
Langit Mataram saat kejadian tampak cerah. (aan/djo)
Lion Air Tergelincir Ratusan Penumpang Terlantar di Selaparang
|
VIVAnews - Ratusan penumpang yang hendak berangkat dari Bandara Selaparang, Mataram terlantar menyusul peristiwa tergelincirnya pesawat Lion Air MD 90 jurusan Jakarta-Mataram.
Keberangkatan dua pesawat masing-masing Garuda dan Riau Air terpaksa ditunda hingga batas waktu yang belum dapat ditentukan.
"Masih proses perbaikan. Semua penerbangan ditunda baik yang datang maupun yang berangkat," kata petugas Administrasi Bandara Selaparang yang tidak mau menyebutkan identitasnya kepada VIVAnews, Sabtu 27 Juni 2009.
Sementara itu hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari pihak Lion Air terkait peristiwa ini. Pesawat Lion Air berkapasitas 165 penumpang itu tergelincir saat baru mendarat di Bandara Selaparang
pukul 14.22 WITA, hari ini.
Hingga saat ini petugas masih berupaya menyingkirkan badan pesawat yang masih melintang di ujung runway. "Semuanya masih berada di lokasi termasuk kepala Administrasi. Seluruh penumpang sudah
dievakuasi dengan bus Maruta," ujarnya.
Pantauan VIVAnews di Bandara Selaparang saat ini petugas berusaha menghalau pengunjung yang hendak masuk ke dalam bandara. Bahkan sejumlah penumpang yang hendak berangkat juga tampak resah akibat
adanya penundaan penerbangan tersebut.
Sugianto seorang penumpang pesawat mengaku sempat tertahan di dalam pesawat selama 20 menit sebelum diperbolehkan turun. "Saya tahu ada kerusakan setelah berad di luar."
Edy Gustan | NTB
ita.malau@vivanews.com
Pesawat Lion Air Tergelincir di Bandara NTB, Tak hanya penumpang, para penunggu di bandara panik. Penumpang di dalam pesawat histeris.
|
VIVAnews - Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 652 tujuan Jakarta-Mataram tergelincir saat mendarat di Bandara Selaparang, Nusa Tenggara Barat, Sabtu 27 Juni 2009 sekitar pukul 15.00 waktu setempat.
Saat ini pesawat dalam kondisi melintang di tengan landasan pacu bandara. Menurut saksi mata, pesawat tergelincir saat membelok. Tiba-tiba roda pesawat tidak bisa berputar, diduga insiden kecelakaan ini terjadi akibat tekanan hidrolik.
Meski tak sampai menimbulkan korban jiwa, penumpang di dalam pesawat panik. "Penumpang dalam pesawat tadi sempat histeris," kata Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nusa Tenggara Barat, Eriyadi Rahmat ketika dihubungi VIVAnews, Sabtu sore.
Ditambahkan dia, seluruh penumpang pesawat telah diturunkan dan dinaikan ke dalam bus. Sementara, petugas saat ini sedang memperbaiki kerusakan roda pesawat. "Sedang diperbaiki," tambah dia.
Tak hanya penumpang yang panik, para penunggu pun ikut cemas. Saat ini mereka sedang bersitegang dengan petugas bandara, tak sabar ingin bertemu dan mengetahui kondisi keluarganya.
Buntut insiden itu, beberapa penerbangan tertunda keberangkatannya. Salah satunya, penerbangan Garuda Indonesia dari Mataram dengan tujuan Denpasar yang seharusnya berangkat pukul 16.00 waktu setempat.
Laporan: Edy Gustan| Lombok
Rabu, 24 Juni 2009
23 Pesawat di Cengkareng Jadi Barang Rongsokan
Rabu, 24 Juni 2009 | 05:47 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: PT Angkasa Pura II (Persero) berencana merelokasi 23 pesawat rusak yang mangkrak di apron Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Angkasa Pura II telah menyurati pemilik bangkai pesawat agar segera memindahkan paling tidak pada Juli mendatang.
"Sebelum penerbangan Haji (November) tahun ini harus sudah kelar," kata Direktur Operasi dan Teknik Angkasa Pura II, Tulus Pranowo, di kantor Angkasa Pura II di Tangerang, Banten kemarin.Ia mengeluh karena bangkai pesawat tersebut menyebabkan kepadatan dan mengganggu fungsi utama apron. "Rata-rata pesawat rusak itu sudah terparkir sekitar dua tahun," ujar Tulus.
Rencananya, apron tempat pesawat bobrok akan dipakai menampung pesawat yang melakukan perbaikan. Termasuk untuk mengantisipasi kebutuhan tempat parkir seiring peningkatan jumlah penerbangan. "Karena kami harus memberikan pelayanan yang baik terhadap pesawat yang beroperasi," katanya.
Direktur Utama Angkasa Pura II, Edie Haryoto mengakui bahwa selama ini pihaknya memang belum tegas terhadap persoalan pesawat mangkrak. Sebab, dahulu bangkai pesawat itu belum mengganggu kebutuhan apron. "Maka itu, sekarang kami akan tegas," ujar dia.
Bahkan, bila ada maskapai yang tidak menggubris surat himbauan relokasi, Angkasa Pura akan menempatkan bangkai pesawat itu di lapangan rumput sekitar apron. Selanjutnya pesawat-pesawat ini akan dimutilasi agar memudahkan pemindahan. "Selanjutnya akan kami buang ke tempat pembuangan," kata Edie.
Rincian jumlah dan pemilik bangkai pesawat itu adalah: dua unit pesawat Lion Air, delapan pesawat Wings Air, empat pesawat Merpati Nusantara, dua pesawat Bali Air, dua pesawat Bouraq Airlines, dua pesawat Mandala Airlines, dua pesawat Jatayu Airlines, dan satu pesawat Megantara Airlines. Beberapa maskapai diantara pemilik bangkai pesawat tersebut, saat ini sudah tidak beroperasi lagi.
WAHYUDIN FAHMI
Selasa, 23 Juni 2009
Indonesia Minta Jepang Tambah Frekuensi Terbang Garuda
Tokyo - Departemen Perhubungan telah melayangkan surat ke pemerintah Jepang agar memberikan izin penambahan frekuensi penerbangan kepada maskapai Garuda Indonesia dari tujuh menjadi 13 kali penerbangan dalam seminggu untuk rute Jakarta - Tokyo. “Bagi Indonesia keinginan penambahan frekuensi merupakan hal yang wajar mengingat kegiatan penerbangan Indonesia dan Jepang selama ini berlangsung dalam kondisi yang amat positif,” kata Dubes RI untuk Jepang Jusuf Anwar di Tokyo, Selasa (23/6).
Pernyataan Dubes itu menjawab rencana penambahan frekuensi penerbangan Garuda Indonesia Jepang khusus rute Jakarta - Tokyo yang dijadwalkan terlaksana mulai 1 Agustus mendatang.
Selama ini, penerbangan Garuda Indonesia di rute ini harus melalui Denpasar sehingga memakan waktu lebih lama sekitar enam jam terbang, sementara rute penerbangan dari Osaka (lima kali seminggu) dan Nagoya (tiga kali seminggu) memang langsung menuju Denpasar.
Senior General Manager Garuda Indonesia untuk Jepang, Korea, China, AS dan Kanada, Faik Fahmi menyatakan, riset Garuda menunjukkan kalangan pebisnis menuntut rute langsung Jakarta - Tokyo non stop.
“Bagi pebisnis penghematan waktu penerbangan selama dua jam itu merupakan hal yang amat berarti,” kata Faik Fahmi.
Penerbangan Jakarta - Denpasar - Tokyo selama ini dilayani oleh pesawat jenis Boeing 747, dan jika Jepang menyetujui penambahan frekuensi maka Garuda akan menggunakan pula Airbus A330.
Garuda akan berkoordinasi dengan otoritas penerbangan Jepang untuk memperoleh izin peningkatan frekuensi penerbangan, namun Otoritas penerbangan Sipil Jepang mensyaratkan keterangan dari pemerintah Indonesia sesuai perjanjian bilateral kedua negara.
“Kami juga berkoordinasi dengan pihak KBRI Tokyo selaku perwakilan resmi pemerintah Indonesia di Jepang guna mempercepat proses perijinan tersebut. Hingga sekarang kami memang masih terus menunggu hasilnya,” kata Faik lagi.
Menanggapi hal itu, Jusuf Anwar menjamin permintaan resmi dari pemerintah Indonesia sudah diteruskan ke Departemen Transportasi Jepang dan tinggal menunggu hasilnya.
“Lobi sudah kita jalankan, memang kini sedang dalam proses saja,” ujar mantan Menteri Keuangan itu. (Ant)
Dephub Optimistis UE Cabut Larangan Terbang 4 Maskapai RI
Nograhany Widhi K - detikNews
"Belum (dicabut), baru mau. Kita tidak mau mendahului, tapi memang mengarah (pencabutan larangan terbang)," ujar Dirjen Perhubungan Udara Dephub Herry Bakti S Gumay ketika dikonfirmasi detikcom tentang pencabutan larangan terbang oleh UE, Selasa (23/6/2009).
Herry mengatakan keputusan final UE memang belum ada karena UE baru bersidang pada 30 Juni, 1-2 Juli 2009 di markas UE, Brussel, Belgia. Herry sendiri rencananya akan berangkat ke Brussel untuk presentasi terakhir di depan 27 negara anggota Komisi UE pada 30 Juni siang.
Keoptimisan bahwa UE akan mencabut larangan terbang terlihat dari respon UE yang menanggapi positif kemajuan kondisi penerbangan Indonesia.
"Minggu lalu ada 4 orang dari UE datang ke kita untuk lihat apa yang telah kita lakukan sesuai regulasi penerbangan Indonesia. Hasilnya banyak kemajuan dan positif," jelas mantan Administrator Bandara Soekarno-Hatta ini.
Larangan terbang UE ke Indonesia dikenakan kepada seluruh maskapai RI sejak 27 Juli 2007. Update terakhir pada 8 April 2009, UE belum juga mencabut larangan terbang yang dievaluasi setiap 3 bulan itu.
Sebelumnya Dephub memprioritaskan 4 maskapai penerbangan Indonesia untuk dihapus dari daftar larangan terbang. 4 Maskapai itu adalah Garuda Indonesia, Mandala Airlines, Prime Air dan AirFast.(nwk/iy)
3 Hari Roda Trigana Air Rusak, Penumpang Terkatung-katung
Hanafi Holle - detikNews
Ilustrasi (www.pbase.com)
Hingga kini puluhan penumpang pesawat masih menanti di sekitar Bandara Pattimura. Manajemen pesawat Trigana Air menempatkan mereka di sejumlah Hotel di sekitar Bandara.
"Penumpang pesawat ini bingung saat datang ke Bandara Pattimura selalu dibilang besok baru terbang, namun ternyata selalu tertunda karena mereka masih terus memperbaiki sehingga ada yang memilih gunakan penerbangan dengan pesawat lain," ujar Kaplsek Bandara Pattimura, Iptu Alfons.
Hal itu dikatakan dia saat ditemui detikcom di Kantornya, Jl Bandara Pattimura, Selasa(23/6/2009).
Dikatakan dia, pesawat tersebut memang mengalami kerusakan pada roda depan sehingga keberangkatan sudah tertunda selama tiga hari, terhitung sejak Sabtu 21 Juni kemarin.
Saat ini, pesawat jenis Wings tersebut diparkir di areal bandara VVIP sambil menanti suku cadang pesawat yang didatangkan dari Jakarta. (irw/irw)
Senin, 22 Juni 2009
Pelita Air Gagal Mendarat di Dumai
Senin, 22 Juni 2009 12:11 WIB | Peristiwa | Umum | Dibaca 608 kaliPesawat tersebut kemudian terpaksa mengalihkan pendaratan di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, kata petugas Lalu Lintas Udara Bandara Pinang Kampai Van Baisten Sitanggang.
"Pesawat Pelita Air dari Jakarta itu hanya berputar-putar diatas bandara, tidak dapat mendarat karena tebalnya kabut asap," ujar Van Baisten Sitanggang.
Menurut dia, pesawat yang dicarter perusahaan PT Chevron itu dijadwalkan mendarat di Bandara Pinang Kampai Dumai pada pukul 09.30 wib namun karena tertutupnya landasan udara oleh kabut asap menyebabkan pesawat hanya berputar di atas bandara dan gagal mendarat.
Ia mengatakan, pesawat tersebut akhirnya berbalik terbang ke arah Pekanbaru dan hingga pukul 11.45 wib penerbangan ke Dumai belum dibuka.
Dijelaskannya sejak pukul 07.00 Wib tadi pagi bandara yang berada di kota minyak itu ditutup untuk penerbangan karena jarak pandang akibat kabut asap dibawah 1.000 meter yang berisiko untuk penerbangan.
Sitanggang mengatakan pada Senin ini dijadwalkan tiga pesawat mendarat di bandara tersebut selain pesawat Pelita yang di carter PT Chevron, juga satu pesawat Fokker 100 Pelita Air yang dicarter Pertamina dan pesawat Fokker 50 milik maskapai penerbangan Riau Airlines (RAL).
"Dua pesawat Pelita dari Jakarta dan satu pesawat RAL dari Pekanbaru hingga sekarang tidak dapat mendarat di Dumai," ujar Sitanggang.
Ia mengatakan, dua pesawat Pelita itu mendarat di bandara SSK II Pekanbaru sedangkan pesawat RAL hingga kini belum menjadwalkan penerbangan ke Dumai karena kuatir kabut asap.
Menurut dia, ratusan penumpang tujuan Jakarta dan Pekanbaru hingga kini masih menumpuk di bandara Dumai dan belum ada kejelasan jadwal keberangkatan mereka ke tempat tujuan.
Sementara itu, udara Kota Dumai makin siang makin tertutup kabut asap yang sangat tebal dengan jarak pandang dibawah 100 meter. Pengendara sepeda motor dan mobil di daerah itu menghidupkan lampu agar lawan dari arah berlawanan dapat terlihat.
Sedangkan lokasi kebakaran di kota tersebut berada di Desa Selingsing, Kecamatan Medang Kampai yakni arah jalan lintas Dumai-Sungai Pakning.
"Diperkirakan lahan yang terbakar di daerah itu sekitar 100 hektare. Lahan kosong hutan belukar," kata A. rahman salah seorang warga yang tinggal di Desa Sepahat, Kabupaten Bengkalis.
Ia mengetahui lokasi tersebut terbakar karena desa tetangganya dan saat ke Dumai tadi pagi melewati lahan yang terbakar itu.
"Asap dari kebakaran sangat tebal menutupi jalan. Kami belum melihat ada petugas kebakaran memadamkan api," katanya yang ditemui di SPBU Dumai saat mengantri mengisi bahan bakar motornya. (*)
Sabtu, 20 Juni 2009
Penerbangan Indonesia Termasuk Paling Tidak Aman di Dunia
BRISBANE, KOMPAS.com — Stasiun televisi Saluran Tujuh Australia, Senin (29/6), menyebutkan bahwa Indonesia, Angola, Liberia, Sudan, dan Korea Utara sebagai lima negara dengan maskapai penerbangan paling tidak aman di dunia. Dalam program siaran Sunrise-nya yang dipantau Antara dari Brisbane, dua penyiar Channel Seven, Mel dan Kochie, mengangkat topik keselamatan penerbangan menyusul terjadinya serangkaian insiden dan kecelakaan terhadap beberapa maskapai penerbangan dunia dalam beberapa bulan terakhir ini.
Dalam acara yang diisi dengan wawancara dengan Redaktur Senior Jurnal Manajemen Penerbangan Air Transport World Geoffrey Thomas itu terungkap bahwa tingkat keselamatan berbagai maskapai penerbangan Indonesia, termasuk Garuda, masih dipandang buruk. Bahkan, Kochie sempat mempertanyakan alasan Pemerintah Australia yang tidak mengikuti langkah Uni Eropa yang sudah terlebih dahulu melarang maskapai penerbangan dari 18 negara, termasuk Indonesia.
Sejauh ini, Garuda merupakan satu-satunya maskapai penerbangan Indonesia yang terbang ke Australia untuk melayani rute penerbangan Denpasar-Sydney, Denpasar-Perth, dan Denpasar-Melbourne. Terlepas dari terjadinya insiden dan kecelakaan penerbangan, termasuk sebuah pesawat Airbus A330 Air France yang terjatuh di Samudra Atlantik yang menewaskan semua penumpang dan awaknya, awal Juni, pesawat masih dianggap alat angkutan yang aman bagi manusia.
Setiap tahunnya ada dua miliar orang bepergian ke berbagai tempat di dunia dengan jasa penerbangan komersial. Menurut Channel Seven, delapan maskapai yang dianggap paling aman di dunia adalah Qantas, Southwest Airlines, Air New Zealand, Delta, Cathay Pacific, Asiana Airlines, Emirates, dan Lufthansa.
Qantas dipertanyakan
Terhadap posisi pertama Qantas dalam daftar maskapai penerbangan teraman di dunia itu, Geoffrey Thomas mencatat, maskapai penerbangan nasional Australia itu juga tetap tak bebas dari sejumlah insiden penerbangan dalam 50 tahun terakhir perjalanannya. Antara mencatat, Qantas mengalami beberapa kali insiden penerbangan serius pada 2008 dan 2009.
Pada 25 Juli 2008 misalnya, pesawat Qantas Boeing 747-400 terpaksa mendarat darurat di Filipina dalam penerbangan langsungnya dari Hongkong ke Melbourne setelah sebuah tabung gas oksigen di pesawat itu meledak. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Lalu pada 29 Juli 2008, sebuah pesawat Qantas yang melayani rute penerbangan domestik terpaksa kembali ke Bandar Udara Adelaide, Australia selatan, akibat ada gangguan terhadap pintu roda pendarat. Pada 2 Agustus 2008, Qantas Boeing 767 pun terpaksa kembali ke Bandara Sydney segera setelah lepas landas akibat ada cairan yang keluar dari sayap pesawat tersebut.
Pesawat Qantas Airbus A330-300 dalam penerbangan dari Singapura ke Perth pada 7 Oktober 2008 mengalami turbulensi yang mengakibatkan terlukanya 46 orang penumpang. Akibat serangkaian insiden ini, tingkat kepercayaan publik negara itu pada standar keselamatan Qantas merosot.
Anjloknya tingkat kepercayaan publik Australia itu setidaknya tercermin dari hasil survei UMR, salah satu lembaga riset penting yang berbasis di Australia dan Selandia Baru.
Laporan hasil survei UMR menyebutkan, sebanyak 63 persen dari seribu responden yang mengikuti survei UMR pada 1-7 Agustus dan 19-24 September 2008 memandang standar keselamatan penerbangan Qantas memburuk dalam beberapa tahun terakhir ini. Persentase responden yang kepercayaannya merosost terhadap Qantas ini meningkat sebanyak 11 persen sejak survei pertama dilakukan Agustus 2008.
Serangkaian insiden penerbangan serius sepanjang 2008 itu masih berlanjut pada 2009. Pada 22 Juni 2009, misalnya, pesawat Airbus A330-300 Qantas mengalami turbulensi di atas wilayah udara Malaysia di Kalimantan dalam penerbangannya ke Perth, Australia barat, dari Hongkong.
Selasa, 16 Juni 2009
Saat Dimutilasi, Bangkai Pesawat Global Air Terbakar
Sumber: Tempointeraktif.com
Kamis, 18 Juni 2009 | 18:31 WIB
TEMPO Interaktif, Tangerang: Sayap bagian kanan pesawat kargo Boeing 747 Global Air asal Australia terbakar saat dimutilasi (dipotong) di area scrap (tempat parkir pesawat tak terpakai) Bandara Soekarno-Hatta. Kebakaran terjadi pada Kamis, (18/6) pukul 13.00.
Vice President Coorporate Secretary GMF Aero Asia, Dwi Prasmono Adji kepada Tempo menjelaskan pesawat Global Air adalah pesawat yang sudah rusak dari sebuah perusahaan di Australia yang sudah bangkrut. “Pesawat itu sudah tidak beroperasi karena perusahaannya tutup. Di sini (-GMF) sudah teronggok sejak 5 tahun silam,” kata Adji.
Pada saat terjadi kebakaran, ada 13 orang petugas dari Sangma Korea yang sedang melakukan pemotongan yang berada di lokasi itu. Adji mengatakan saat itu, sayap sudah berhasil dipotong dan diturunkan dari badan pesawat. Di bawah dilakukan pemotongan lebih kecil-kecil.
“Nah ketika diturunkan itu rupanya sayap bersentuhan dengan sisa bahan bakar sehingga menimbulkan percikan api,” kata Adji.
Tak bisa menghindar, Suwadi seorang petugas pemutilasi terkena sambaran api pada bagian wajahnya. “Hanya luka ringan, berobat jalan dan sudah diperbolehkan pulang,” kata Adji.
Area Scrap, di mana pesawat yang rusak itu sedang dipotong hanya berjarak 300 meter dari hanggar (perawatan) GMF. “Jadi bukan di hanggar melainkan di scrap. Di sekitar itu ada 10 pesawat rusak lainnya yang terparkir,” ujar Adji.
Humas GMF Aero Asia Siska Tobing sebelumnya kepada Tempo mengatakan kebakaran sayap pesawat yang awalnya diduga Phuket Air itu menimbulkan suara ledakan. “Suaranya terdengar sampai terminal 1 penumpang,” kata Siska.
Menurut Siska api berhasil dipadamkan selama kurun 30 menit. Namun Adji mengatakan api padam hanya dalam tempo delapan menit setelah tiga unit mobil pemadam kebakaran dua dari PT Angkasa Pura II dan satu unit dari GMF memadamkan api tersebut.
Meski hanya sayap, namun bekas kebakaran menimbulkan asap yang membumbung ke udara meski tidak mengganggu aktivitas penerbangan. Menurut Siska pesawat yang rusak itu tidak diambil pemiliknya atau penyewanya atau leasser karena maskapai itu bangkrut dan memang sudah tak layak terbang.
AYU CIPTA
Senin, 15 Juni 2009
Dephub Selidiki Tergelincirnya Pesawat Dornier di Papua
Hery Winarno - detikNews
“Sedang diselidiki oleh tim dari KNKT dan Inspektor dari Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara, Departemen Perhubungan,” kata Dirjen Perhubumgan Udara Herry Bakti dalam jumpa pers kepada wartawan di Departemen Perhubungan, Jl Merdeka Barat, Jakarta, Senin (15/6/2009).
Selain itu pihak Dephub juga akan melakukan evaluasi standar minimum khusus penerbangan terhadap bandara Tanah Merah. Hal itu dilakukan karena Bandara Tanah Merah yang terletak di Boven Digul itu merupakan salah satu bandara perintis di Papua.
“Karena fasilitas di Papua sangat minim dan geografisnya bergunung-gunung,” papar Herry.
Pesawat berjenis Dornier D328-100 itu tergelincir usai melakukan landing pada Minggu, 14 Juni sekitar pukul 9.30 WIT. Akibatnya, baling-baling sebelah kanan pesawat yang dipiloti oleh Alexander Jonathan Darcy (berkebangsaan Inggris) dengan Co-Pilot Anggara Pratama Putra itu patah dan telepas dari mesin. Namun tidak ada korban jiwa akibat insiden ini.
“Penumpang 28 yang terdiri 25 dewasa 1 anak dan 2 balita, semuanya selamat,” tutur Herry.
Setelah kecelakaan itu, beredar kabar bahwa tergelincirnya pesawat buatan Amerika Serikat tersebut akibat ada seekor anjing yang melintas di bandara saat peswat sedang landing. Namun pihak Dephub belum bisa memastikan kebenaran isu itu.
“Memang ada anjing melintas, tapi kita belum bisa pastikan apakah itu penyebabnya atau bukan,” papar Hery.(her/sho)
Minggu, 14 Juni 2009
Batavia Delay Hampir Enam Jam di Jambi
Jambi (ANTARA News) - Batavia Air menunda keberangkatan pesawatnya dari Bandara Sultan Thaha Saifuddin (STS) Jambi menuju Jakarta selama hampir enam jam.Sebuah pesawat Batavia Air rute Jambi-Jakarta yang seharusnya diberangkatkan dari STS Sabtu pukul 12.00 WIB, baru diberangkatkan sekitar pukul 17.30.
Belum diketahui penyebab delay, sementara pihak Batavia tidak memberikan informasi mengenai penundaan penerbangan tersebut.
"Kami tidak tahu mas, coba tanya ke manajemen," kata salah seorang petugas yang ada di loket Batavia, Bandara STS Jambi.
Akibat tertunda cukup lama, sekitar 100 penumpang terlantar di ruang keberangkatan bandara, tak sedikit yang mengeluh dan menyesalkan sikap jasa penerbangan Batavia.
Aksi protes penumpang pun tak bisa dihindari, ada yang spontanitas menyesalkan sikap Batavia.
"Kami tidak diberitahu apa penyebab delay. Tidak ada kejelasan keberangkatan, apalagi persoalan ganti tiket atau lainnya," kata Safril, salah seorang penumpang.
Tidak sedikti juga penumpang yang membeli tiket pesawat lagi untuk mengejar waktu tiba di Jakarta.
"Terpaksa kita beli tiket baru lagi daripada harus menunggu yang tidak jelas," ungkap salah seorang penumpang.
Petugas bandara menyebutkan ada kerusakan mesin pada pesawat Batavia, hingga harus diperbaiki agar bisa terbang dengan aman.(*)
Kamis, 11 Juni 2009
Asosiasi Penerbangan Pertanyakan Komitmen Xian Aircraft
Sumber: Tempointeraktif.com
Kamis, 11 Juni 2009 | 20:01 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Indonesian National Air Carrier Association (INACA) mempertanyakan komitmen Xian Aircraft Company Ltd, produsen pesawat MA-60 asal Cina. Sebab, Xian dianggap lambat merespons kerusakan rudder atau sayap belakang pesawat pada MA-60 yang dioperasikan PT Merpati Nusantara Airlines.
Merpati juga tidak lagi mendapatkan layanan suku cadang dan teknisi dari Xian atas rusaknya dua pesawat MA-60. Padahal Xian bertanggung jawab atas perawatan pesawat selama 3,5 tahun sejak pembelian pesawat itu. "Kami menyayangkan sikap Xian itu, kalau Boeing atau Airbus pasti responya sangat cepat," kata Sekretaris Jenderal INACA, Tengku Burhanuddin, saat dihubungi melalui telepon, Kamis (11/6).
Menurut dia, sikap Xian tersebut layak dipertanyakan karena dunia penerbangan Indonesia terkena imbasnya. Jika dibiarkan justru akan menimbulkan preseden buruk bahwa pelaku penerbangan dan pemerintah Indonesia tidak peduli dengan persoalan keselamatan.
"Klarifikasi dari pabrikan pesawat memang perlu, dan ini perlu segera dituntut ke mereka (Xian)," ujar Tengku. Bahkan, Tengku menyayangkan atas keputusan pemerintah dan Merpati untuk menggunakan pesawat MA-60 tersebut. Alasannya, tingkat reliabilitas dan kehandalan pesawat sipil dari Cina itu belum pernah teruji dengan baik.
Rabu (10/6) Kemarin, Direktur Utama Merpati Bambang Bhakti melontarkan ultimatum kepada Xian untuk segera menyelesaikan negosiasi atas sengketa pembelian 15 pesawat MA-60 hingga akhir bulan ini. Jika batas waktu itu terlewati, Merpati akan menjalankan rencana kontijensinya (darurat) dengan membeli pesawat dari produsen lain.
Langkah kontijensi akan diambil karena perseroan harus menjalankan operasionalnya. Sejak Oktober tahun lalu, Merpati tidak mendapatkan lagi layanan suku cadang dan teknisi dari Xian atas rusaknya dua pesawat MA-60. Padahal Xian bertanggung jawab atas perawatan pesawat selama 3,5 tahun sejak pembelian pesawat itu. Akibatnya, Merpati mengurus sendiri dan membeli suku cadang dengan harga pasar untuk memperbaiki pesawat tersebut.
WAHYUDIN FAHMI
Rabu, 10 Juni 2009
Garuda Incar Linus Airways
"Kami tengah mempelajari neraca keuangan perusahaan penerbangan yang akan kami akuisisi," kata Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar, usai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR-RI, di Gedung MPR/DPR, Rabu.
Menurut Emirsyah, akuisisi tersebut merupakan bagian dari rencana strategis perusahaan sejalan dengan program restrukturisasi perseroan.
"Kalau pilihannya baik, maka bisa saja rencana akuisisi segera direalisasikan," katanya.
Menurut dia, pihaknya memiliki strategi dengan mengambil alih perusahaan berskala kecil dan yang tidak sanggup mengembangkan layanan.
"Secara komersil pembelian perusahaan yang sedang "sakit" dapat dilakukan pada harga yang rendah. "Itu (Linus) hanya salah satunya. Nantinya ada lagi beberapa yang kita akan akuisisi," tegas Emirsyah.
Ia berpendapat, akuisisi maskapai kecil seperti Linus bisa menambah jumlah rute penerbangan Garuda.
"Pertimbangan akuisisi bisa direalisasikan apalagi jika diperoleh pada harga yang lebih murah. Dari pada mendirikan perusahaan baru lebih baik mengambilalih perusahaan lain," katanya.
Untuk itu diutarakan Emirsyah, pihaknya akan menekankan aspek keuntungan.
"Setelah dilakukan perhitungan bisnis dan ternyata menguntungkan, ya... akan kami ambil," tegasnya.
Hingga April 2009 Garuda mencatat laba bersih Rp326,1 miliar, melonjak sekitar 515 persen dari laba bersih periode April 2008 sebesar Rp53 miliar.
Peningkatan laba bersih antara lain dipicu keberhasilan perusahaan menurunkan beban usaha hingga sekitar 10 persen.(*)
COPYRIGHT © 2009
Departemen Perhubungan Masih Evaluasi Kerusakan Pesawat Cina
Sumber: Tempointeraktif.com
Rabu, 10 Juni 2009 | 18:32 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Departemen Perhubungan masih mengevaluasi laporan PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) tentang penghentian penerbangan (grounded) pesawat MA60 buatan Xian Aircraft Industry Company Ltd, pabrik pesawat asal Cina.
Penghentian penerbangan pesawat MA60 itu terkait temuan kerusakan pada bagian rudder atau sayap belakang salah satu pesawat. Hanya dalam laporan yang dikirim Merpati pekan ini, maskapai pelat merah tersebut menyampaikan keinginan untuk menghentikan penerbangan dua pesawat MA60 yang dioperasikannya.
"Tapi harus kami evaluasi dulu, sebab tidak bisa langsung grounded begitu saja," kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan Herry Bhakti, saat dihubungi Tempo melalui telepon, Rabu (10/6).
Alasannya, Herry melanjutkan, kerusakan yang terjadi pada rudder pesawat MA60 masih mungkin diperbaiki. Bahkan, cadangan untuk perbaikan masih ada dan pesawat telah dibawa ke Cina untuk diperbaiki. "Jadi, bukan merupakan kerusakan fatal," ujar dia.
PT Merpati Nusantara Airlines (Merpati) menyatakan telah menghentikan pengoperasian pesawat MA60 pada pekan ini menyusul kerusakan di rudder belakang pesawat. Dua unit pesawat jenis MA60 milik Merpati saat ini merupakan bagian dari 15 unit pesawat yang dipesan dari Xian.
WAHYUDIN FAHMI
Merpati "Grounded" Pesawat Buatan China
"Grounded kami lakukan karena ada "crack" (retak) di bagian sayap belakang," kata Direktur Utama Merpati, Bambang Bhakti, usai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR-RI, di Gedung MPR/DPR, Rabu.
Menurut Bambang Bhakti, penghentian peongoperasian dilakukan sejak awal pekan ini.
Ia menjelaskan, kondisi fisik pesawat seperti itu sangat berbahaya sehingga pesawat tidak digunakan.
Dua unit pesawat jenis MA 60 milik Merpati saat ini merupakan bagian dari 15 unit pesawat yang dipesan perusahaan dari Xian Aircraft Industry Company Ltd.
Merpati mengurangi jumlah pesanan karena harga jual Xian dinilai terlalu mahal.
Bahkan beredar kabar bahwa Merpati akan membatalkan perjanjian jual beli dengan Xian dengan alasan pesawat dipesan mengalami kerusakan alias cacat produk namun Xian menolak permintaan itu dengan alasan sudah adat kontrak.
Akibatnya, Xian berencana menggugat perusahaan pelat merah itu sebesar Rp1 triliun.
Bambang Bhakti menolak berkomentar lebih lanjut dengan alasan pemerintah telah membentuk tim perunding kedua pihak.
Ia hanya menjelaskan, bahwa kerusakan hanya pada satu pesawat, "tapi pesawat yang satu lagi kita grounded juga demi menjamin keselamatan penumpang."
Bambang mengatakan penghentian penerbangan tersebut akan dilakukan sampai ada penjelasan resmi dari Xian.
Perusahaan negara itu sudah melayangkan surat kepada pihak China dan tinggal menunggu jawaban.
Ia juga memastikan akibat penghentian operasional pesawat itu, perusahaan mengalami pengurangan potensi pendapatan.
"Pasti bikin kerugian, yang seharusnya terbang kan sekarang tidak," katanya.
Sebalumnya, seorang eksekutif Merpati menjelaskan, penolakan pesawat MA 60 tersebut terkait alasan teknikal dan komersial yang tidak menguntungkan bagi perusahaan.
Manajemen Merpati, katanya, sudah menyatakan keberatannya kepada tim privatisasi yang terdiri dari Kementerian Negara BUMN dan departemen terkait lainnya.
"Manajemen sudah menyatakan tidak mau ambil kepada tim privatisasi," tegas sumber yang tidak bersedia jatidirinya diungkap.
Ia juga menyatakan tidak gentar jika Xian melayangkan arbitrase terkait penolakan pembelian pesawat tersebut.
"Ya... silakan saja arbitrase. Kami bisa arbitrase balik karena pesawat yang dikirim tidak bagus," tegasnya.(*)
Senin, 08 Juni 2009
Sebuah Pesawat Dikabarkan Jatuh di Cianjur Selatan
Kabar mengenai jatuhnya pesawat tersebut dibenarkan Komandan Kodim Cianjur, Letkol Inf Sunoto. Menurut Sunoto, pihaknya sedang menyelidiki kebenaran kabar tersebut.
"Kabar itu baru saya dengar 10 menit yang lalu, katanya ada pesawat jatuh di Pagelaran. Saya sudah meminta anggota untuk mengecek ke lokasi," kata Sunoto saat dihubungi detikcom melalui telepon 15.35 WIB, Senin (8/6/2009).
Menurut Sunoto, wilayah Pagelaran terletak cukup jauh dari kota Cianjur. Untuk mencapai daerah itu, dibutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 jam.(djo/asy)
Garuda Datangkan Pesawat A330-200
Senin, 08 Juni 2009 | 10:49 WIBTEMPO Interaktif, Kuala Lumpur: PT Garuda Indonesia akan mengoperasikan empat unit pesawat terbaru tipe A330-200 bulan mulai depan. Empat pesawat terbaru itu didatangkan secara bertahap dari Tollouse, Prancis.
"Pesawat ini akan melayani rute penerbangan jarak menengah," kata Direktur Ut ama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar di sela-sela Sidang Tahunan Internationaal Air Transport Association (IATA) ke-65 di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin, 7 Juni 2009.
Menurut Emir, penambahan armada baru ini untuk meningkatkan pelayanan penerbangan jarak menengah. Pesawat terbaru ini mulai diopera sikan 1 Juli 2009 untuk rute Jakarta-Seoul-Jakarta dan Jakarta-Shanghai-Jakarta. Salah satu pelayanan yang disiakan adalah saluran telepon dan jaringan internet. "Pesawat ini memungkinkan penggunaan internet dan telepon," katanya. Empat armada baru ini didatangkan secara bertahap sampai Oktober 2009.
Selain mendatangkan pesawat buatan Airbus, Garuda juga akan mendatangkan lima unit pesawat B737-800 (Next Generation) sampai akhir 2009. Pesawat buatan Boeing Company akan menambah jumlah pesawat sejenis yang dioperasikan Garuda Indonesia.
ARIF FIRMANSYAH
Kamis, 04 Juni 2009
Merpati Batal Beli Pesawat Cina
Sumber: Tempointeraktif.com
Kamis, 04 Juni 2009 | 10:38 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) menyatakan akan batal membeli 15 pesawat MA-60 buatan Xian Aircraft Industry Company Ltd, Cina senilai US$ 15 juta.
Seorang pejabat di lingkungan Merpati mengungkapkan, manajemen kecewa atas kualitas pesawat yang telah Xian dikirim ke Indonesia. “Karena alasan teknis dan komersial. Kami mengusulkan pembatalan pembelian kepada tim restrukturisasi,” ujar sumber itu, Rabu (3/6).
Sebelumnya diberitakan Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil mengaku meminta jaminan pabrik MA-60 terkait crack di bagian belakang pesawat.
Kisruh Merpati berawal dari pembelian 15 unit pesawat MA-60 seharga US$ 15 juta yang akan digunakan untuk melayani rute Indonesia Timur dengan cara sewa. Dua dari 15 pesawat yang dipesan telah didatangkan, namun belakangan Merpati meminta pengurangan jumlah unit yang dibeli karena harga jual dinilai terlalu mahal.
Selain itu, terungkap, pesawat yang dikirimkan mengalami kerusakan crack di bagian belakang. Xian menolak permintaan karena Merpati sudah terikat kontrak. Buntutnya, Xian menggugat perusahaan pelat merah itu sebesar Rp 1 triliun.
RIEKA RAHADIANA
Rabu, 03 Juni 2009
Tender Ketiga Kereta Bandara Ditargetkan Kelar Akhir Juni
sumber: Tempointeraktif.com
Rabu, 03 Juni 2009 | 17:26 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Departemen Perhubungan menargetkan proses tender ketiga pembangunan jalur kereta api Bandara Soekarno-Hatta selesai paling lambat akhir Juni. Sebelumnya, dua kali proses tender terpaksa diulang akibat jumlah pesertanya belum memenuhi persyaratan.
"Untuk melaksanakan langkah selanjutnya harus menunggu tender ketiga ini selesai," kata Direktur Jenderal Perkeretaapian Departemen Perhubungan, Tundjung Inderawan, di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta, Rabu (3/6).
Pasalnya, ia melanjutkan, status legal proyek ini harus jelas dan pasti terlebih dahulu jika memang akan diambil alih pemerintah. "Artinya, tender ketiga ini harus diselesaikan dahulu," ujar Tundjung.
Meski begitu, ia belum bisa memastikan apakah dalam proses tender ketiga ini jumlah pesertanya bakal sesuai dengan yang disyaratkan, yakni tiga peserta. Sebab, sampai saat ini peserta tender masih dua perusahaan: PT Railink dan Mitsui (Jepang). "Kemungkinan adanya peserta baru belum tahu," katanya.
Tundjung pernah mengatakan, investor menarik diri akibat tidak adanya dukungan dari pemerintah dalam proyek tersebut. Selain itu, pembangunan jalan tol menuju bandara juga membuat investor khawatir jumlah penumpang kereta api menuju bandara akan sedikit.
Awalnya, tujuh investor asing dan dalam negeri menyatakan berminat dengan proyek kereta api bandara. Ketujuh investor itu terdiri dari empat investor lokal dan tiga perusahaan asing seperti Alstom dari Prancis; serta Sumitomo dan Mitsui, keduanya dari Jepang.
Kereta api Bandara Soekarno-Hatta yang memiliki nilai investasi sekitar Rp 7 triliun ini rencananya akan memiliki jalur rel sepanjang 28 kilometer. Namun, sebagian jalurnya akan menggunakan rel milik PT Kereta Api Indonesia, sehingga diperkirakan biayanya bakal berkurang sebanyak Rp 2,2 triliun.
WAHYUDIN FAHMI
Pesawat Riau Airline Mengalami Kempes Ban
Rabu, 03/06/2009 16:11 WIBPekanbaru - Pesawat Riau Airline (RAL), maskapai milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau, mengalami kempes ban di Bandara Pinangkampai, Dumai, Riau. Akibatnya penumpang sempat terlantar beberapa jam.
Kepala Bandara Pinangkampai, Dumai, Edi Lukman mengungkapkan hal itu saat dihubungi detikcom, Rabu (3/06/2009). Menurutnya pesawat RAL jenis Foker 50 ini, mendarat di Pinangkampai dari Pekanbaru pada pukul 10:30 WIB. Maskapai BUMD ini dari Pekanbaru menuju Dumai membawa 8 penumpang.
"Setelah seluruh penumpang diturunkan dan pesawat lagi parkir baru diketahui ban bagian depannya kempes. Artinya, bannya kempes bukan saat akan melakukan pendaratan, melainkan setelah pesawat itu parkir," kata Edi.
Karena mengalami kempes ban, jadwal keberangkatan penumpang dari Dumai tujuan Pekanbaru sempat tertunda beberapa jam. Sekitar pukul 14:15 WIB, pesawat RAL akhirnya take off dari Pinangkampai menuju Pekanbaru dengan membawa 50 orang penumpang.
"Peristiwa ini tidak mengganggu jadwal penerbangan yang ada di bandara Pinangkampai," kata Edi.(cha/djo)
Kempis Ban, Penerbangan Riau Airlines Ditunda
|
VIVAnews - Pesawat Riau Airlines jenis Fokker 50 mengalami keterlambatan penerbangan. Hal itu karena roda ban bagian depan kempis, sesaat sebelum pesawat akan diterbangkan dari Bandara Pinang Kampai, Rabu 3 Juni 2009.
Penumpang dengan rute penerbangan Dumai-Pekanbaru terpaksa harus menunggu beberapa jam. Setelah dilakukan pergantian ban, pesawat yang harusnya sudah terbang pukul 11.30 WIB itu, baru bisa berangkat pukul 14.15 WIB.
Kepada VIVAnews, Direktur Utama Riau Airlines, Samudra Sukardi membenarkan kejadian tersebut. "Hanya kempis ban saja. Sekarang sudah diganti dan pesawatnya sudah terbang lagi," kata Samudra.
Dia menambahkan, untuk mengatasi masalah tersebut mereka mendatang suku cadang ban dari Pekanbaru ke Dumai.
"Jadi kebetulan pada hari ini kami memang mau mengantar stok ban ke Dumai. Ketika terjadi kerusakan, kita langsung menggantinya. Ban yang kempis cuma satu dan tak ada masalah," tuturnya.
Laporan: Ali Azumar | Riau
Menhub: 70% Kawasan Bandara Harus Sebagai “Traffic Management”
Tuban - Menteri Perhubungan RI, Djusman Safei Djamal, mengingatkan Manajemen PT Angkasa Pura I untuk tidak mengkomersialkan kawasan Bandara Internasional Ngurah Rai hingga 40 persen.
Menurut Djusman kawasan bandara secara umum hanya dapat dikomersialkan maksimal hingga 30 persen dari seluruh luas bandara.
Peringatan tersebut disampaikan menteri perhubungan menyusul penolakan Gubernur Bali Made Mangku Pastika atas rencana PT Angkasa Pura I yang berencana mengkomersialkan 40 persen kawasan Bandara. Sedangkan luas Bandara Ngurah Rai secara keseluruhan mencapai 100.000 meter persegi.
Saat ditemui Selebzone.com, Menhub Djusman menegaskan bahwa masukan Gubernur Bali harus menjadi pertimbangan utama, sebab secara aturan juga menunjukkan hanya 30 persen kawasan Bandara yang dapat dikomersialisasikan.
“Secara aturan sekitar 70 persen kawasan bandara harus berorientasi pada pengelolaan bandara sebagai traffic management. Sedangkan hanya 30 persen untuk komersial seperti untuk menampung makan, minum dan pernak-pernik kecil,” papar Djusman.
Sebelumnya secara tegas Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyatakan menolak untuk komersialisasi 40 persen kawasan Bandara. Pemda Bali bahkan sempat mengancam tidak akan mengeluarkan ijin mendirikan bangunan (IMB) jika PT Angkasa Pura I tetap ngotot mengkomersialkan 40 persen kawasan Bandara.(Mul)
Angkasa Pura I Tetap Akan Komersialkan 40% Kawasan Bandara

Juni 3rd, 2009 | Badung | Edit
Tuban - PT Angkasa Pura I menargetkan untuk menjadikan Bandara Internasional Ngurah Rai Bali sebagai bandara wisata terbaik di Dunia. Mengingat Bandara Ngurah Rai merupakan pintu masuk bagi wisatawan mancanegara ke Indonesia.
Direktur Utama PT. Angkasa Pura I Bambang Darwoto, saat ditemui Selebzone.com di Tuban, Rabu (3/6) siang, menyatakan sesuai master plan Bandara Ngurah Rai, ditargetkan mampu melayani 25 juta penumpang pertahun di 2025.
Guna mendukung operasional bandara PT. Angkasa Pura I juga akan menargetkan untuk mengembangkan 40 persen kawasan bandara sebagai kawasan komersial, kendati rencana tersebut mendapat penolakan dari Gubernur Bali.
“Kalau Bandara turis berarti titik beratnya adalah untuk kebutuhan turis, Jadi semua kebutuhan turis dipenuhi. Tapi hampir 40 persen untuk kebutuhan penunjang, Jadi 60 persen untuk operasional,” jelas Bambang Darwoto.
Selanjutnya Bambang Darwoto menambahkan Bandara Ngurah Rai sampai saat ini telah melayani lebih dari 9 juta penumpang pertahun. Dan dalam 5 tahun terakhir mengalami peningkatan mencapai 10 persen pertahun. Kondisi ini yang menyebabkan Bandara Ngurah Rai mulai tahun ini diperluas guna memberikan pelayanan yang lebih baik.
Sebelumnya, secara tegas Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyatakan menolak komersialisasi 40 persen kawasan Bandara. Penegasan penolakan yang sama juga disampaikan Pastika usai mengikuti pelantikan tim sukses Mega-Pro di Kesiman Senin lalu(Mul)
Senin, 01 Juni 2009
Merpati Gandeng Lihan Terbangi Banjarmasin - Jakarta
sumber: Tempointeraktif.com
Senin, 01 Juni 2009 | 11:57 WIB
TEMPO Interaktif, Banjarmasin: Merpati Air Nusantara Airlines kembali membuka rute penerbangan Banjarmasin – Jakarta mulai hari ini. Terbang perdana dari Banjarmasin tepat pukul 07.30 wita pesawat merpati bertolak dari Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin dengan tujuan Jakarta. Pesawat jenis Boeng 737-400 mengangkut 148 penumpang dari 156 kursi yang tersedia.
Dalam pembukaan rute penerbangan Banjarmasin – Jakarta, PT Merpati Nusantara mengandeng Lihan, seorang pengusaha lokal Banjarmasin pemilik Intan Putri Malu senilai Rp3 miliar.
Rencananya, Merpati melayani penerbangan dua kali dalam satu hari, dengan jadwal penerbangan 07.30 wita dan 17.45 wita, kata Direktur PT Lihan Jaya Sarana Darmawan Jaya Setiawan, kepada {{tempo}} Senin (01/06) di Banjarmasin.
Menurut Darmawan Jaya Setiawan, pemilik PT Lihan Jaya Sarana H Lihan, melakukan kerja sama operasi (KSO) PT Merpati Nusantara Airline, dengan nilai investasi Rp15 miliar. Dalam KSO yang berlangsung di Banjarmasin pada Ahad (31/06) malam, Direktur Utama PT Merpati Nusantara Bambang Bhakti, bersama Direktur Operasional Capt Nikmatullah, Direktur Tekhnik Hotlan Siagian, dan Direktur Niaga PT MNA Tharian, bertandang ke Banjarmasin.


